Selasa, 27 November 2012

Siapa Sih yang Enggak Mau



Hari minggu pagi yang indah dengan air super deras turun dari langit mendung, menghantarkan saya mandi gratis di jalan. Basah kuyup dari ujung rambut, apalagi ujung kaki entah bagaimana cara menggambarkan keadaan basah kuyup menuju gereja pada saat itu. Hasil akhir acara basah kuyup yang mengharuskan saya membeli dress baru untuk menggantikan seluruh kostum awal. Toilet mall yang masih sepi pengunjung, saya seperti di rumah sendiri memeras celana jeans dan baju atasan sebelum dimasukkan ke plastik dan menggantikan dengan dress dadakan yang baru dibeli. Mungkin bisa di bilang apes, tapi hal tersebut menambah pengalaman unik dan lucu dalam hidup saya. 

Anyway hari minggu di buka dengan acara basah kuyup, di sore hari saya menerima sms dari nyokap.

Nyokap : (sms 1) sekali-skali kalo hari sabtu nggak kerja ke rumah tulang lah. Biar gereja sama tulang, biar dapat jodoh orang batak.
(sms 2) 2 tahun lagi papa pensiun, sebelum papa pensiun menikahlah kamu. Rugi kalau tidak menikah sekarang, belum lagi umur makin bertambah. Bla bla bla blaaaaaaaa

Eng ing eng... datanglah tema besar yang bernama jodoh atau pasangan hidup yang membuat saya jadi sedikit emosi. Jika ditanya, saya pasti mau menikah. Perasaan atau keinginan menikah itu sudah ada, walaupun nggak pengen nikah sekarang (saat ini juga). Lagipula dengan kondisi yang memang saya belum menemukan “the right man”, posisi saya saat ini belum genap 1 bulan moment kelulusan after sidang skripsi dan baru menikmati kembali sebagai wanita karir setelah sekian lama menjadi mahasiswi extention di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Namanya juga baru lulus kuliah dan kembali menjadi wanita karir lagi, pasti lagi semangat-semangatnya untuk berkarir dan menikmati udara bebas lepas dari ransel ‘mahasiswi’ tapi udah di cekek atau dipenjara lagi atau bisa dibilang dikejar deadline yang namanya dapatin jodoh secara instan and then menikah. 



Siapa sih yang nggak mau menikah? Sebagian besar makhluk hidup di dunia ini khususnya manusia itu pasti ada keinginan untuk menikah. Tapi, saya sangat menolak keras jika saya harus gereja jauh2 ikut sama tulang saya demi mendapatkan pria batak untuk dijadikan jodoh (what the hell) saya pergi ke gereja tujuan utama adalah kerinduan beribadah & bersekutu bersama saudara seiman lainnya, saya juga menolak keras jika saya harus menikah karena deadline umur, karena perintah dari para keluarga, karena lagi musimnya dsb. Sorry! saya akan  menikah karena memang sudah waktunya dari Tuhan dan menikah dengan “Mr. Right”.

Pasti ada rasa kecewa campur marah dan bete’ ketika hal menikah itu kesannya suatu hal yang ‘biasa’ saja atau bisa dikatakan ‘rutinitas’ perjalanan hidup belaka. Seakan pernikahan itu moment yang nggak berharga sama sekali. Tiada yang salah tentang pernikahan. Pernikahan itu bagi saya unforgetable moment banget melebihi apapun. Pada waktu itu tiba saya ingin senyum manis dan bahagia tiada hentinya terlukis di hati dan wajah pendamping hidup saya, keluarganya beserta seluruh orang-orang yang saya kasihi lainnya.

So, jangan gampang bertanya ‘kapan merried?’. Karena merried suatu moment yang berbeda dengan pertanyaan ‘kapan kelar skripsi?’. Jika ingin menjadi pengingat sesekali it’s okey lah.
Saya yakin sudah ada rancangan Tuhan yang indah khusus buat saya tentang “Mr. Right” di depan sana. Karena rancangan yang ada pada Tuhan rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan..... Tinggal menunggu saatnya tiba, yang selalu indah tepat pada watunya.

*****

Nyokap : sebutan mama dalam bahasa di jakarta.
Tulang : sebutan atau panggilan paman di kalangan orang batak toba (kakak/adik laki-laki dari     saudara kandung mama).

-Ria Sinaga-
24-Nov-2012; 11.35pm

Minggu, 25 November 2012

Jurusan Akuntansi Babes




Ehem, uhuk, yipikayey, eciee yang udah lulus dari perkuliahan jurusan akuntansi. Mimpi nggak ya di belakang nama bisa di selipin gelar S.E. Jaman sekarang, memang sudah lumrah untuk menjadi sarjana. Berbeda dengan jaman papa mama saya dulu untuk menjadi sarjana itu adalah sesuatu yang ‘wow’ dan nggak gampang karena berbagai faktor. Jika banyak orang mencapai S.E hal yang short journey, berbeda dengan saya. Usia seperempat abad, saya baru berhasil lulus kuliah strata 1. Awalnya saya berkuliah mengambil Study D3 akuntansi program non reguler yang notabene sudah ditentukan masa study 3,5 tahun. Entah kenapa waktu itu saya dan keluarga mengambil keputusan untuk menerima sgala konsekuensi termasuk dalam hal waktu. Stelah lulus dari D3 yang waktu studynya lebih lama dari D3 pada umumnya, saya sempat rehat sejenak. Saya enjoy hanya bekerja dan belum ada hasrat untuk melanjutkan ke strata 1. Sejujurnya, pada saat saya mengambil keputusan kuliah di jurusan akuntansi hanyalah karena restu dari orang tua. Saya juga didorong oleh guru ekonomi akuntansi saat saya masih SMA untuk berkuliah di jurusan akuntansi. Sebenarnya, saya pengen banget berkuliah di jurusan komputer, hukum atau komunikasi. Tetapi karena latar belakang jurusan akuntansi adalah jurusan yang paling tenar dikalangan ilmu sosial, jadinya saya mengambil jurusan tersebut untuk pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Beberapa orang terdekat sering mengatakan “elu itu nggak cocok kerja di ladang finance, accounting dkk ri. Orang yang kerja dibagian finance, accounting itu yang jiwanya jutek, pendiem, nggak rame. Kalo elu itu suka ikut-ikut acara musik, acara ini, acara itu, bisa tau ini and itu dengan cepat dsb”. Hahaha, saya hanya bisa merespon dengan tertawa. 

Well, semakin dewasa memahami kehidupan dan arti sebuah panggilan saya sadar kalo saya hanya berminat di dunia akuntansi tetapi tidak mempunyai bakat di kalangan akuntansi dan kawan-kawannya. Saya bisa mengerjakan pekerjaan akuntansi, keuangan, perpajakan tetapi tidak cinta. Hal yang disayangkan ketika mempunyai minat tetapi ternyata tidak berbakat. Tanya saja pada dosen pembimbing saya yang baik hati, berapa pertanyaan kompre dari dosen penguji yang berhasil saya jawab saat sidang. Bisa dihitung dengan jari saya dapat menjawab pertanyaan kompre. Karena saya hanya modal menghapal tetapi tidak memahami apa yang saya baca dan pelajari. Saya juga bingung, saat SMA saya jago akuntansi, tetapi berbeda pada saat di perguruan tinggi. Kurangnya bakat akuntansi dalam diri saya, membuat saya kurang antusias. 

Lulusan akuntansi itu memang bisa dibilang spesial. Mana ada membutuhkan seorang akuntan dan auditor membuat salah satu persyaratan minimal Sarjana from any major. Kenapa, karena jurusan akuntansi itu spesial yang akan menempati kedudukan yang mempunyai peran yang sangat penting di industri manapun. Kalo di kalangan IPA bisa melahirkan dokter-dokter hebat, di kalangan IPS dapat melahirkan para dokter keuangan. Manusia dan uang, dua-duanya kadang sama tingkat sensitifnya. Salah dikit aja, udah salah smuanya dan melahirkan yang namanya salah diangnosa atau salah analisa. Banyak orang yang bilang saya termasuk orang yang mempunyai tingkat analisa yang tajam. Saya memang senang menganalisa. Menganalisa tentang lingkungan, tentang berita, tentang karakter, tentang fashion, tentang film dan musik, tetapi tidak tentang angka-angka rupiah, dollar dsb. Cuma sebagai info aja, sebenarnya banyak orang yang bilang “gw nggak ngerti apa-apa soal akuntansi kan gw dari IPA”. Justru biasanya yang dari jurusan IPA itu bisa lebih pinter akuntansi daripada latar belakang IPS. Tau apa sebabnya? Karena ilmu akuntansi itu sebagian besar bisa dibilang ‘matematika’. Bagi yang nggak suka hitung-hitungan seperti saya, jangan sesekali mencoba study jurusan akuntansi hanya gara-gara gengsi jurusan. Jurusan apapun di perguruan tinggi jika itu memang hal yang disukai dan berbakat yakin deh itu akan menjadi awal kesuksesan meraih impian. 

Memasuki seperempat hidup, kurang bijak sepertinya jika saya menyesali yang telah terjadi dalam kehidupan. Sekarang, bagaimana saya menjalani yang ada di depan mata dengan memberikan yang terbaik untuk menuai di hari depan. Karena apa yang di lakukan sekarang, dapat menentukan kehidupan selanjutnya di masa yang akan datang. Kapan harapan dan impian-impian saya terwujud. Only God knows. Ia selalu membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Saya seorang manusia yang ikut kemana torehan pensilNya dalam hidup saya. Karena Tuhan yang empunya hidup saya.

Ria Sinaga
Jakarta, 15-Nov-2012 ; 08.00 pm

Minggu, 18 November 2012

Babelan Ujung Utara Indonesia

Suatu daerah yang cukup asing di telinga saya mendengar kata babelan. Tetapi hal itu menjadi tujuan utama saya dan teman-teman sekelas (teman kampus program strata 1). Salah satu teman baik kami melangsungkan akad nikah dan resepsinya sabtu yang cerah merona kala itu. Persiapan untuk menuju ke tempat tujuanpun sudah dipikirkan dan dikemas seminggu sebelum waktunya. Mulai dari pencarian serta pengaturan akomodasi, mendata siapa saja yang hadir, meeting point dimana dsb. Awalnya, saya hanya berpikir bahwa saya dan teman-teman mau kondangan (ke undangan) di daerah bekasi. Jujur saja jika mendengar kata bekasi, saya cuma tau soal MM (Metropolitan Mall). Selebihnya, saya nggak tau menau tentang bekasi city. Sabtu sebelumnya saya menghadiri resepsi pernihakan salah satu sahabat saya di daerah harapan indah bekasi. Omigot!!! Jauh banget ditambah macet. Hal yang rumit untuk dilalui dengan kurang lebih 3 jam perjalanan dari terminal kampung melayu. Nah, yang kondangan ke babelan, apa kabar? Itu daerah bekasi juga loh. Nah loh bekasi again, eng ing eng........

***
 
Brangkat kurang lebih dari kuningan jakarta kira-kira pukul 13.30 WIB menuju Babelan, Bekasi Utara. Smangat yang membara masih terlintas dalam diri kami dan berkata “titi, kami dataaaaaaannngg”, seruan dari teman-teman. Belom apa-apa, di jalan H.R Rasuna Said aje udah macet >.< pas udah masuk tol juga macet. Mencapai garis finish tol barat bekasi dengan cepat pun hanya jadi mimpi. Bercerita, bercanda, tertawa dan curcol menjadi hiburan kami di mobil pada saat macet di tol. Jakarta, kapan sih nggak macet? Tapi sabtu itu macetnya memang bisa dibilang kebangetan. Cocok dengan sebutan kalo ada kata diatas kata “parah”. Zzzzz beberapa jam kemudian tiba di tol bekasi barat. Hati kami sedikit lega campur haru karena akhirnya keluar juga dari parkiran gratis. Kami smua melakukan meeting point ulang, bertemu di titik RS Hermina berhubung rombongan jadi 3 mobil.

***
 
Iyess, siap-siap brangkat menuju tempat utama yaitu gedung PGRI Babelan. Cewek-cewek termasuk saya mengoles ulang bedak serta lipstik di bibir. Maksud hati biar sampai disana tampak masih rapi dan segar. Membuka peta lokasi tujuan untuk mempermudah perjalanan. Dibenak kami, dari tol barat bekasi kira-kira paling lama 1 jam perjalanan. Nggak jauh-jauh dari tol tersebut, kalo liat peta. Mulai ketemu statiun bekasi, kami smua udah nggak sabar nyampe disana berhubung perut kami semua sudah pada konser rock n’ roll alias laper coy. Karena lihat di peta, dari statiun bekasi tinggal luruuuuussss abis itu ketemu kantor camat Babelan belok kiri abis itu belok kanan nyampe deh. Easy, right?!! Ternyata kenyataannya tidak selurus yang ada dalam peta, hahaha. Jalanan yang cuma satu jalur, ada jalanan yang ditutup ditambah macetnya lebih parah daripada di tol pake harus muter balik karena nyasar, intinya takjub deh sama perjalananya. Sepanjang perjalanan hal yang kami bisa lakukan adalah seperti yang kami lakukan sebelumnya. Bercerita, bercanda, tertawa sambil bersabar menemukan lokasi resepsi itulah yang menjadi hiburan. Melewati gunung lewati lembah, persawahan, taman kebalen, toko-toko alfamart, rumah-rumah penduduk, sampai melewati summarecon river side alias pinggir kali (kali = sungai), kabel listrik yang tergantung tidak tinggi tapi dibawah dekat dengan tanah, kami nikmati seperti perjalanan wisata ala koper dan ransel. Khusus para cewek-cewek dandanan, dress, rambut serta make up bukan prioritas yang sempat untuk diperhatikan. Keinginan kami cuma satu yaitu cepat sampai tujuan. Slama perjalanan, kami memperhatikan janur kuning yang terpasang. Kali aja tulisannya adalah nama teman kami. Ternyata dari sekian banyak janur kuning yang terpasang, bukan nama dari teman kami, melainkan ada yang membuat kami tertawa karna di janur kuning tersebut tertulis nama “meox”. Sekali ini saja ke daerah Babelan sudah mau nyerah rasanya. Kami hanya berpikir, selama ini teman kami yang nikah kantornya daerah kuningan jakarta bolak balik dengan mengendarai motor apa kabarnya yah :D bisa kuat loh, mantab nggak tuh.

***
 
Finally, yang nyetir yang tak kenal kata menyerah kami tiba juga di gedung PGRI Babelan. Akhirnyaaaaaaaaaa!!! Wajah dan dandanan sudah berubah. Sudah nggak bisa ngitung berapa jam perjalanan dan sampai jam berapa kami pada saat itu. Dress harusnya di seterika lagi karena kusut. Rambut ada yang megar, wajah ada yang muka mabuk, datar, bantal, bengong dsb. Beruntung nggak semua makanan sudah habis. Turut berbahagia, haru campur kecapean dijalan saat memeluk teman baik kami yang sudah resmi menikah. Saat saya berpelukan sama titi sang pengantin wanita dan dia berkata “duuhh jauh ya tempatnya”, saya hanya bisa berkata di dalam hati “yang penting sekarang udah nyampe *haha”. Orang kedua yang menyusul menempuh hidup baru dari kelas 1205. Pastinya personel yang lain ingin segera menyusul moment tersebut suatu hari nanti *uhuk*.  Kami makan sekenyangnya, kami puas-puasin photo. Photo-photo bersama pengantinnya maupun photo di luar gedung. Nggak mau melewatkan moment indah apalagi untuk sampai di tempat tersebut penuh dengan perjuangan dan kebetulan memang hari itu adalah hari pahlawan. Kami lah para pejuang-pejuang dari jakarta – babelan *dramatis*.
Titi's Wedding 10-Nov-2012 @ Babelan, Bekasi Utara
 
Perjalanan pulang, nggak jauh beda dengan perjalanan datang. Malah lebih parah lagi macetnya. Tadinya, kami ada 2 undangan. Undangan yang satu lagi, kakak dari salah satu teman baik kami melangsungkan resepsi pernikahan juga. Dengan berat hati karena keadaan yang sangat teramat tidak memungkinkan, kami membatalkan untuk pergi kesana. Perjalanan pulang, impian kami hanyalah minimal bertemu kembali dengan mulut tol bekasi barat, apalagi baru stengah jam meninggalkan lokasi perut kami pun kembali konser slow rock alias lapar lagi!!!. Zzzzz beberapa jam kemudian, kami melihat lampu-lampu jalanan, metropolitan mall, giant dsb rasa haru campur bahagia melihat ‘kota’ kembali. Welcome to the earth guys, kata seorang teman. Macam dari planet mana pulak lah kami barusan, haha. 

***
 
Mendatangi 2 kondangan sekaligus hasilnya cuma berhasil 1 kondangan, batal jalan-jalan pulang dari kondangan, batal nonton skyfall bareng tetapi nggak batal makan malam bersama. Perjalanan panjang, melelahkan, menakjubkan ditutup dengan makan malam bersama. Intinya sabtu itu menghabiskan waktu untuk 1 kondangan saja menghabiskan waktu 12 jam dan kami berharap tidak ada lagi salah satu dari kami yang melangsungkan pernikahan di daerah babelan. Mendengar kata kota bekasi pun kayaknya jadi galau duluan. Babelan’, lebih dekat ke Kalimantan Barat dibandingkan kesana. Tapi demi salah satu teman baik kami, kami turut berbahagia atas pernikahannya sehingga dibela-belain untuk datang. Kerbersamaan dengan teman-teman sekelas 1205 yang sudah lama nggak bertemu jadi terasa lebih lama karena perjalanan yang panjang. Memiliki teman-teman mempunyai hobby serius bercanda daripada serius marah-marah menjadikan perjalanan seru yang tak terlupakan buat kami smua. Sekali lagi perjalanan jauh, seru, menyenangkan dan kebersamaan rekan-rekan 1205 tidak pernah bisa tergantikan oleh apapun.
Next, dimanakah lokasi resepsi? Ditunggu ya undangannya. Kalo bisa jangan di daerah bekasi lagi, hahaha (just kidding). 

Selamat menempuh hidup baru Titi dan Asep

Jakarta, 15-Nov-2012 ; 02.00 pm
-Ria Sinaga-  

Minggu, 21 Oktober 2012

Cobalah Mengerti


Setelah menulis tentang bachelors party dalam tulisan what a perfect last Friday night, akhir-akhir ini saya lagi suka dengerin lagu dari Noah feat Momo Geisha yang berjudul cobalah mengerti. Rata-rata udah pada pernah denger dunk lagu cobalah mengerti versi si Momo, berhasil dinyanyikan dengan karakter sendiri lepas dari karakter penyanyi aslinya sehingga memiliki ciri khas atau keunikan masing-masing.

Bukan soal Momo Geisha ataupun Noah yang menjadi topik utamanya. Saya terkesan dengan judul lagunya “cobalah mengerti”. Minggu ketiga di bulan ini bisa di bilang minggu yang cukup berat buat di lalui. Mama opname di rumah sakit dari minggu lalu dan saya mendapatkan shocking soda dari hari pertama saya bekerja. Bersyukur kepada Tuhan adalah hal yang slalu membahagiakan hati saya dan damai sejahtera serta sukacita menguasai hati & pikiran ini. Sakit, mungkin kata ini adalah hal yang biasa. Masuk rumah sakit rawat inap karena sakit, hal ini sering saya alami ketika masih balita, masa anak-anak, remaja hingga dewasa. Hal yang bikin nggak biasa, kalau orang yang kita kasihi baru masuk rumah sakit rawat inap di bulan lalu harus jatuh sakit dan di rawat inap kembali di bulan berikutnya. Masalahnya bukan ada pada pertanyaan ‘kenapa’ tetapi untuk apa hal ini di ijinkan terjadi. Saya ‘mencoba mengerti’ dengan keadaan saat itu. Thanks God, akhirnya mama sudah bisa pulang dari rumah sakit dan kondisi kesehatannya yang mulai pulih dan dipulihkan.

Hal yang selanjutnya adalah hari pertama saya bekerja, semangat yang membara disertai deg-deg’an unyu-munyu. Bekerja di sebuah perusahaan dengan nama besar pasti menjadi kebanggaan tersendiri. Tetapi pernahkah terlintas jika perusahaan yang mempunyai nama besar tersebut memiliki sistem manajemen kinerja yang masih manual? Sistem pembukuan keuangan yang ngurusin dua PT sekaligus masih menggunakan manual system. Oke fine, selama saya ‘bisa’ walaupun nggak ‘cinta’, akan saya kerjakan sampe seberapa kuat. Saya terinspirasi dari kata-kata whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord. So sweet, bukan.

Seni tersendiri pengalaman hari pertama saya bekerja di kantor ini ‘my first day is closing day’. Mungkin agak ambigu sama kalimat bahkan ada yang bingung saat membaca kalimat tersebut. Dunia kerja bagian finance itu ada istilah closing. Closing ini maksudnya adalah tutup buku. Artinya merekap semua transaksi yang telah di proses selama seminggu kemarin (tutup buku ada yang setiap minggu, ada juga yang setiap bulan). Karena manual system, jadinya agak repot. Dokumen yang menggunung yang harus di rekap dan ditanda tangani pihak-pihak tertentu. Hari pertama yang saya belum mengerti apa-apa dengan manajemen atau ‘model’ pembukuannya seperti apa menuntut saya untuk mengikuti alur kinerja team work yang ujung-ujungnya ngajarin kilat dan harus mengerti secara kilat juga. *nyengir*. Serasa lari maraton sejauh berapa kilometer gitu. Pokoknya bingung deh ngerespon keadaan pada saat itu. Bingung antara mau ngakak sama mau nangis. Rasa syukur lebih besar daripada rasa ngeluh itu membuat saya bisa berpikir ‘cobalah mengerti’. Belajar mau mengerti daripada menuntut untuk dimengerti. 

Bagaimana dengan lingkungan kerja dan orang-orang di dalamnya? Pernah membaca artikel salah satu blog pribadi seseorang yang judulnya ‘teman’. Tulisan tersebut membuka pikiran dan energi positif bagi saya tentang per-temanan. Tulisan ini secara garis besar mengatakan jangan terlalu serius dalam berteman. Maksudnya begini, ada lebih dari 3 miliyar orang yang hidup di dunia ini bisa dijadikan teman. Teman masa lalu tak bisa memberi pengetahuan masa kini, teman masa depan hanya bisa mendengar cerita masa lalu mu ( http://dannioo.com/2011/07/02/teman/ ). Belajar dan sudah mengevaluasi pengalaman buruk masa lalu dalam dunia pertemanan di kantor atau dunia kerja bagian accounting, tax, finance dan kawan-kawannya, memutuskan untuk tidak terlalu serius dalam berteman. Profesional kerja sangat dibutuhkan dalam pekerjaan. Kalau tidak begitu, bagaimana caranya dapat menghasilkan kinerja yang maksimal. Kenyamanan saat bekerja juga pasti dibutuhkan siapa saja. Cukup banyak case dari teman-teman yang bercerita soal masalah dengan rekan kerja yang kadang akarnya hanya dari persoalan sepele yang dibikin jadi berlebihan sehingga menghasilkan kata lebay, emosi meledak adalah hasil akhirnya. Ngeri, bukan? Saya pun nggak begitu ngurusin soal sifat/karakter yang dimiliki oleh teman-teman serekan kerja selama itu masih bisa diajak kerja sama. Masing-masing orang mempunyai karakter dan proses tersendiri dalam peningkatan kedewasaannya. So, berusaha memaklumi saja jika ada yang kurang berkenan. Fokus pada prioritas pekerjaan harus selesai tepat waktu dengan penuh rasa tanggung jawab. Kayaknya buang-buang waktu jika berpikiran negatif tentang orang lain. “Pikiran-pikiran negatif yang muncul mengenai orang lain, bisa menjadi pencuri sukacita terbesar dalam menjalani hari-hari. Ada kalanya, lebih baik kita memutuskan untuk tidak mengetahui apa yang tidak perlu kita ketaui. Agar kita dapat fokus untuk maju ke masa depan dan menyerahkan kepada Tuhan sikap orang lain terhadap kita yang tidak dapat kita ubah (by: @ferryfelani )”. Lagi-lagi ‘cobalah mengerti’ dengan hal tersebut. Berteman memang tidak selamanya harus bareng-bareng terus. 

Ke-tidak terlalu seriusan dalam berteman bukan berarti tidak peduli alias cuek terhadap sesama manusia. Perhatian yang wajar serta bijak menempatkan diri menjadikan suasana tetap hangat. Terkadang tidak dipungkiri dalam keadaan berat yang dihadapi, manusia butuh teman untuk didengar bukan hanya mampu untuk mendengar saja. Tapi entah kenapa, keadaan genting terkadang teman baik maupun sahabat pasti tidak ada waktu atau berhalangan untuk bertemu mendengarkan curhat. Hal tersebut akan terlintas dalam pikiran bahwa kalau kita itu slalu ada buat mendengarkan curhatan teman maupun sahabat, bahkan kadang ada hal yang dikorbankan untuk mendengarkan selembar curhat. Namanya cewek, kalau punya masalah enaknya itu curhat. Ada yang dengerin aja udah berasa lega gitu. Lagi dan lagi ‘cobalah mengerti’ bahwa teman dan sahabat juga punya dunianya sendiri. Mungkin lebih sering dirasakan kadang datang jika membutuhkan dan pergi ketika lagi senang. Mencoba mengerti jauh lebih baik daripada larut dalam kekecewaan. Kalau kata dannioo.com “hanya akan merontokkan rambut dan melubangi hati” jika hal itu terjadi. 

Kita nggak bisa memaksakan keadaan dan kondisi slalu seperti yang kita inginkan. Ada kalanya keadaan yang nggak enak di ijinkan terjadi tujuannya pasti untuk kebaikan diantaranya meningkatkan karakter yang lebih kuat dan dewasa dari sebelumnya. Fokus pada tanggung jawab dan masa depan yang ada di depan mata terlebih dahulu. Mencoba mengerti itu jauh lebih baik daripada tidak mencoba sama skali. If you wait for perfect conditions, you will never get anything done __unknown

21-Oct-2012
-Ria Sinaga-